Kata
stress bermula dari sebuah kata latin “stringere” yang berarti
ketegangan, dan tekanan. Stress merupakan reaksi yang tidak diharapkan
yang muncul karena tingginya tuntutan lingkungan pada seseorang.
Keseimbangan antara kekuatan dan kemapuan terganggu. Bilamana stress
telah mengganggu fungsi seseorang, dinamakan distress. Distress
kebanyakan dirasakan orang jika situasi yang menekan berlangsung terus
menerus (tugas yang terlalu berat, atau tugas yang tidak mampu dilakukan
karena situasi yang tidak kondusif atau stress yang disebabkan oleh
trauma)
Stress tidak selalu bersifat negatif. Sebaliknya stress juga dapat,
untuk sementara, menghasilkan sebuah prestasi yang tinggi. Proses
penanggulangan stress yang spontan ini merupakan sebuah proses
kompensasi. Bila bentuk kompensasi ini berlangsung terlalu lama, stress
pada akhirnya akan menemukan titik jenuh dan berbalik menimbulkan
berbagai macam gejala yang sering kali tidak dapat dimengerti orang yang
bersangkutan, itulah yang disebut orang akhir-akhir ini dengan istilah
burnout.
Di berbagai negara, gejala stress sangat menonjol, terutama di
negara maju, dimana faktor kompetitif merupakan faktor yang sangat
menonjol. Di negara yang sedang berkembangpun, terutama di kota besar,
penyebab stress juga tidak banyak bedanya dengan negara maju. Sedangkan
di daerah yang terbelakang, dimana perjuangan hidup masih merupakan
target yang utama, stress juga merupakan gejala yang cukup banyak
mempengaruhi kesehatan masyarakat. Apalagi stress yang dialami orang
didalam daerah konflik, baik yang bersenjata maupun tidak, dimana
keamanan merupakan faktor penting yang bila tidak diatasi, menimbulkan
stress yang bersifat kolektif (trauma kolektif ). Stress kolektif inipun
mudah terjadi karena bencana alam, seperti bencana Tsunami baru baru
ini. Kolektif stress, adalah stress yang dialami orang banyak, terdiri
dari stress primer yaitu korban langsung terkena bencana dan stress
sekunder yaitu stress yang dialami oleh masyarakat luas yang secara
tidak langsung menjadi korban karena mereka melihat, mendengar, atau
kehilangan anggota keluarganya.
Stress kebanyakan tidak disadari oleh orang yang bersangkutan,
banyak dari mereka yang pergi mengunjungi dokter karena mengalami
berbagai macam keluhan fisik. Biasanya mereka tidak memperlihatkan
problem emosionalnya. Hal ini disebabkan karena mereka tidak dapat
mengkaitkan problem emosional dengan keluhan fisik yang diderita. Oleh
karena itu, penggalian informasi dan latar belakang berbagai gejala
fisik tersebut tidak bisa dikesampingkan.
* Diambil dari Makalah Dr. Lily Djojoadmodjo (Netherland)
pada Indonesian Acupuncture Expo dengan judul Psikosomatik & Terapi
Dengan Akupunktur
ads
Tuesday, 14 April 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Popular Posts
-
Sesak nafas (Dyspnea) adalah penyakit yang timbul secara tiba tiba atau ga jelas gejalanya. Sebelum membahas tentang cara mengatasinya ma...
-
TBC Paru-paru atau Tuberkulosis paru-paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini ...
-
Jakarta, Bisnis kue brownies yang mengandung ganja di kawasan Blok M, Jakarta Selatan terbongkar. Dikabarkan, seorang pelanggan mengala...
-
Osteoporosis merupakan penyakit yang ditandai dengan penurunan kepadatan tulang, dimana tulang menjadi berpori, sehingga penderita osteopo...
-
Kadar kolesterol yang tinggi akan menyebabkan penebalan plak di lumen pembuluh darah, tapi juga mudah memicu kerusakan dinding pembuluh d...
-
Salah satu tips bagi yang berdiet adalah “diet bukan kelaparan”. Diet adalah menjaga perut tetap da...
-
Macam-macam Penyakit Tulang . Peradangan, tumor, dan persendian adalah salah satu penyakit yang ada di tulang. Penyakit tulang, biasa...
-
Anda tengah diet untuk mendapatkan postur tubuh ideal? Jika iya, tak perlu mati-matian mengurangi porsi makanan, mengubah pola makan, ata...
-
Meski tampak ringan, sulit tidur bukan perkara gampang. Jika merasakan gejala ini, secepatnya cari cara untuk mengatasinya karena jika...
No comments:
Post a Comment